Feeds:
Tulisan
Komentar

banjir lebong
Berdasarkan hasil pendataan Satlak PBA Lebong, tak ada korban jiwa dalam bencana itu. Namun 5 rumah hanyut diseret air bah. Banjir itu juga menyebabkan 2 sekolah rusak. Dua sekolah itu diketahui SDN 1 Semelako dan SMPN 2 Semelako, Lebong Tengah.

Diketahui, desa terendam banjir di Lebong Utara adalah Desa Talang Ulu, Desa Kampung Muara Aman, Desa Lebong Donok dan Kelurahan Pasar Muara Aman. Di Kecamatan Amen, desa Desa Muara Aman. Sedangkan di Lebong Tengah ada 8 desa yaitu Semelako, Tanjung Bunga, Payaembik, Karang Anyar, Muara Ketayu, Pagar Agung, Embong Panjang dan Talang Sakti.

Banjir melanda 4 desa di LU dan 1 desa di Amen berasal dari sungai Amen. Sungai ini bertemu dengan Sungai Air Kotok sehingga airnya meluber dan membanjiri Desa Lebong Donok dan Kelurahan Pasar Muara Aman–persisnya kawasan Pasar Melintang.
Sementara di Lebong Tengah, banjir yang melanda rumah warga berasal dari Sungai (Bioa) Nge’ai Semelako. Sumber air Bioa Nge’ai itu dari gunung Cawang, yang kini menjadi areal perkebunan warga.

Sejauh ini banjir sudah mulai surut. Pasca banjir, warga tampak sibuk membersihkan lumpur dan sampah yang dibawa banjir. Saya terpaksa izin tak masuk kantor karena harus membantu keluarga membersihkan sampah dan lumpur akibat banjir kemarin, ujar seorang pejabat Pemkab.

Tak cuma warga yang sibuk bersih-bersih. Puluhan siswa juga tampak sibuk membersihkan ruang kelas mereka yang kotor digenangi air dan lumpur. Pemandangan itu terjadi di SDN 1 Semelako dan SMPN 2 Semelako.
Hari ini proses dan kegiatan belajar-mengajar (KBM) tak bisa berjalan seperti biasa. Anak-anak dan guru harus gotong-royong membersihkan kelas. Saya kira, besok (hari ini, red), KBM juga belum bisa efektif, ujar Kepala SDN 1 Semelako Hj Herawati ZA Ama Pd yang ditemui BE di ruang kerjanya.

Camat LU Fahrurrozi SSos dan Camat LT Drs Hosen Basri yang ditemui terpisah menyebut lima rumah warga yang hanyut itu masing-masing tiga di LU dan 2 di LT.Dua di Semelako masing-masing milik orang tua Nasution dan Nurdin alias Maneng. Dapur rumah mereka hanyut dibawa arus banjir, kata Hosen Basri.

Bupati Lebong Drs H Dalhadi Umar BSc melalui Sekkab Zainul Amin Yasik SE mengatakan pihaknya belum merinci kerugian materiil yang ditimbulkan banjir. Meski laporan kerusakan dan kerugian sementara sudah disampaikan para camat, namun laporan itu masih perlu diverifikasi.

Kami sudah menurunkan Dinas PU, Dinas Sosial, Kesbangpol dan para camat untuk mendata sekaligus merinci secara tepat kerusakan dan kerugian yang diderita warga. Nanti direkap lagi untuk kemudian dirumuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, kata Amin, sapaan Zainul Amin Yasik.

Zainul mengimbau masyarakat untuk tetap waspda. Sebab, hujan yang masih kerap turun menjelang sore hingga malam, masih berpotensi menyebabkan banjir. Terutama warga yang rumahnya berada di pinggir sungai, kata Amin.

Bronjong
Wakil Ketua II DPRD Lebong Ir Amrozi Ishak, yang rumahnya juga tak luput dari hantaman banjir, meminta Pemkab Lebong melalui Dinas PU untuk merealisasikan permintaan warga Desa Semelako, yakni membangun bronjong di sepanjang aliran sungai Nge’ai sebagai salah satu cara meminimalkan ancaman banjir. Bronjong itu salah satu solusi agar ke depan, banjir tidak meluber ke rumah-rumah penduduk, kata dia.

Sementara kades Semelako Ir Akwaluddin mengatakan, selain bronjong, Pemkab juga perlu membangun kembali jembatan Semelako. Sebab, salah satu pondasi/penyangga jembatan yang ada kini ditengarai ikut memicu air banjir meluber ke jalan raya dan rumah warga.

Ada satu penyangga yang letaknya persis di tengah. Ukurannya juga relatif besar sehingga batang
kayu atau bambu kerap menumpuk dan membuat aliran air tidak lancar lantas mengalir ke jalan dan rumah di sekitar sungai, ujar Akwaluddin.

Rutin
Bagi masyarakat Lebong, terutama yang tinggal di sepanjang pinggir sungai, bencana banjir, agaknya, bukan lagi ancaman yang menakutkan. Terbukti, meski berkali-kali dihantam derasnya air, tak banyak yang memilih meninggalkan rumah, misalnya pindah ke wilayah yang jauh dari bibir sungai. Bahkan banjir yang datang secara periodik, mengajarkan mereka cara luput dari maut.

Seingat saya, banjir besar di desa ini terjadi kelang 5-6 tahun sekali. Paling lama 10 tahun sekali. Sudah rutin begitu, kata Ir Akwaluddin, Kades Semelako.
Pengakuan serupa juga diungkap Hj Herawati ZA, Ama Pd, warga Semelako yang kini menjabat kepala SD 01 Semelako, Lebong Tengah. Yang lalu-lalu lebih parah dari yang kemarin, tambah ibu paruh baya itu mengenang.

Bencana banjir dua hari lalu, kata Akwaluddin, memang merusak dua rumah warganya. Belasan warga lainnya juga menderita kerugian materiil bernilai puluhan juta rupiah. Mereka kehilangan ternak unggas dan ikan. Semuanya lenyap disapu air banjir. Puluhan hektar sawah yang baru sebulan ditanami padi juga rusak. Ada yang tertimbun koral. Ada juga yang hanyut, kata dia.

Saya sendiri kehilangan 20 ribu bibit ikan mas yang saya titip di kolam tetangga bernama Satilah, ujar Samsu Komar, Kaur Umum Desa Semelako yang ditemui terpisah saat mendata rumah warga yang rusak diterjang banjir. Dalam laporan yang disampaikan ke kantor desa, Satillah merugi Rp 4,5 juta.

Nurdin alias Kameng (70), warga setempat, menuturkan, sebelum banjir menghanyutkan dapur rumah berikut tungku masak dan perabotan dapur lainnya, ia baru saja pulang dari sawah. Kini memang masa-masa turun ke sawah. Sudah sebulan ini menanam padi, cerita Kameng usai menunjukkan kondisi rumahnya yang berjarak kurang lima meter dari bibir sungai Ngeai Semelako.

Dihimpit Tembok
Menurut Akwaluddin, saat banjir besar 2002 lalu, seorang warga desanya tewas setelah hanyut terbawa arus. Warga tewas itu menjadi korban saat menyeberang sungai yang tiba-tiba banjir. Rabu lalu, memang ada seorang warga bernama Suhaidi alias Dedek (28) yang sempat hanyut saat mencoba menjebol tembok pagar untuk memuluskan aliran air banjir. Ia selamat. Meski kakinya sempat dihimpit tembok. Ia juga sudah dirujuk ke rumah sakit, terang kades.

Dikatakan Akwaluddin, meski banjir kemarin membuat tiga desa, Semelako, Karang Anyar dan Tanjung Bunga, seperti danau, tak ada korban jiwa yang diakibatkannya. Karena sudah sering banjir, kami tahu tanda-tandanya. Supaya tidak menjadi korban, kalau hujan di gunung, air sungai keruh, warga menjauh dari sungai. Orang tua biasanya melarang anak-anak ke sungai kalau hujan di gunung. Makanya, tidak ada korban jiwa lagi, ujar Akwaluddin. (467)

Wisata Biyoa Putiak

Air Putih di waktu lebaran

Di Kabupaten Lebong juga terdapat beberapa Obyek Wisata Air yang dapat dikunjungi oleh para Wisatawan, antara lain adalah :

* Wisata Danau Tes : Danau Tes merupakan tempat wisata sekaligus menjadi Pusat Pembang-kit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Bengkulu. Tidak sama dengan tempat wisata lainnya, luas objek wisata Danau Tes + 750 Ha jarak tempuh-nya 25 km dari ibu kota kabupaten dapat di tempuh dengan ken-daraan umum, Danau Tes telah tersentuh oleh Penataan Pembangunan.

* Sumber Air Panas Desa Tes : Luas Areal 1 Ha belum dikembangkan.

* Air Terjun Telon Buyuk : Terletak di Desa Turan Lalang 11 Km dari Ibu Kota Kecamatan 24 Km dari Ibu Kota Kabupaten dapat ditempuh dengan kendaraan umum ketinggian ± 50 Meter, mempunyai keindahan Panorama Alam kesejukan dan Kebersihan Udara Luas Area Wisata 9, 5 Ha belum dikembangkan.

* Wisata Air Picung : Air Picung merupakan tempat Wisata Danau Alami, terletak disebelah Utara Kota Muara Aman dengan jarak ± 5 Km sama halnya dengan tempat Wisata Air Putih, Air Picung belum tersentuh oleh Penataan Pembangunan dan di kelola secara profesional.

* Objek Wisata Alam Lobang Kacamata : Terletak di Desa Lebong Tambang yang berada di Kecamatan Lebong Utara + 2 Km dari Pusat Kota Lobang Kacamata memiliki keunikan tersendiri yang mana terletak di dalam Bukit atau Dinding Bukit yang berbatu.

* Air Putih : Air Putih merupakan tempat wisata sumber air panas yang sangat menarik yang terletak ± 10 Km sebelah Timur dari Kota Muara Aman di Desa Air Kopras. Suasana Air Putih pada saat ini masih alami karena belum ada penataan pembangunan yang memadai.

* Objek Wisata Air Panas : Terletak didesa Karang Dapo Kecamatan Lebong Selatan ± 54 Km dari Ibu Kota Kabupaten, dapat ditempuh dengan kendaraan, ada kolam pemandian dengan keindahan Panorama Alam.

* Danau Lupang : Terletak di Kelurahan Mubai Kecamatan Lebong Selatan jarak tempuhnya 6 Km dari Ibu Kota Kecamatan, Sarana yang dimiliki jalan setapak mempunyai Panorama Alam yang indah luas Danau Lupang ± 5 Ha belum tersentuh pengembangan Pembangunan.

* Gunung Belerang : Terletak di Kelurahan Mubai ± 6 Km dari Ibu Kota Kelurahan ± 9 Km dari Ibu Kota Kecamatan mempunyai keindahan Panorama Alam.

* Air Terjun Ketenong : Terletak di Desa Ketenong, masih alami dan belum dikembangkan diperlukan investor untuk pengem-bangan lebih lanjut .

* Sumber Air Panas Turan Lalang : Luas Area 0, 5 Ha masih alami terletak di Desa Turan Lalang.

* Objek Wisata Air Terjun Tes : Terletak di Desa Tes, Luas lahan 1,5 Km masih alami dengan keindahan Panorama Alam.

* Wisata Air Paliak (Lebong Utara) : Sama halnya dengan Sumber air panas Air Putih, Air Paliak merupakan tempat wisata alami yang sangat menarik . akan tetapi di Air Paliak suasana pegunungannya sangat terasa karena memang terdapat di Daerah Pegunungan.

* Danau Blue : Terletak di Desa Mubai Luasnya ± 2 Km belum dikembangkan mempunyai pemandangan yang indah dan alami, airnya jernih kebiru-biruan.

* Sungai Ketahun : Terletak disepanjang Desa Suka Sari dan Talang Leak mempunyai air yang sangat jernih, keindahan Panorama Alam dan Luasnya sungai sepanjang 20 Km.

* Objek Wisata Lainnya : Diantaranya Goa Sriwijaya, Suban Gergok, Telaga Tujuh warna, Air Terjun Tik Gumaceak, Air Terjun Siapang, Air terjun Bio Baes, Air Terjun Taman Peri, Air Terjun Amen, Arum Jerang Air Ketahun dan Air Terjun Tebing Serai.

Situs/Benda Cagar Budaya Di Kabupaten Lebong

Nama Benda Cagar Budaya Lokasi Keterangan
Keramat Tebo Lai Semelako Kecamatan Lebong Tengah Rajo Megat
Keramat Tebo Sam Atas Tebing Kec. Lebong Atas Rajo Mawang
Keramat Ulau Dues Tunggang Kec. Lebong Utara Ki Karang Nio
Keramat Lebong Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pandan
Keramat Beringin Kuning Semelako Kec. Lebong Tengah Ki Pati
Keramat Tapus Tapus Kec. Rimbo Pengadang Rio Setanggei Panjang
Situs Tepok Reginang Tapus Kec. Rimbo Pengadang Dayang Reginang
Situs Tanah Majapahit Tapus Kec. Rimbo Pengadang Biku Bembo
Situs Malim Janggut Tl. Ratu kec.Rimbo Pengadang Malim Janggut
Keramat Tik Ukem Tes kec. Lebong Selatan Biku Bermano
Keramat Tubei Pelabi Kec. Lebong Atas Samang Alo
Keramat Daneu Daneu Kec. Lebong Atas Ajai Malang
Rumah Adat Tradisional Gunung Alam Kec. Lebong Atas Dilestarikan suku rejang

Jenis-jenis Kesenian Kabupaten Lebong
* Tarian Induk : Tari Kejai
* Tari Kereasi : Tari Uli, Tari Ejek, Tari Kipas, Tari Pisau, Tari Selendang, Tari Kemanten, Tari undang Biniak, Tari Lalan Belek, Tari Obor, Tari Samana, dan tari Ting Bedeting.

* Medula : Cerita Legenda yang dilagukan tanpa alat musik (hanya vocal). Mengisahkan tentang perjuangan kaum laki-laki.

* Geritan : Cerita pahlawan yang dilagukan dengan alat pengeras suara bambu (Gerigik).

* Sambei : Penyampaian ungkapan hati dengan Bahasa yang halus dan dilagukan.

* Rejung : Penyampaian perasaan hati dengan Bahasa yang halus dan dilagukan.

* Perbimbang : Penyampaian ungkapan hati dengan Pantun yang dilagukan.

* Seni Kerajinan : Menganyam dan sejenis kerajinan Tangan lainnya.

* Seni Arsitektur : Cara-cara pembuatan alat pendukung kerja (kehidupan) dalam pertanian, rumah tangga

* Seni Musik : Musik Kolintang, Musik Sedem, Musik Krilu, Musik Ketuk Kecitung, Musik Redap, Gendang, Musik Genggong, Musik suling, Musik Rebana, Musik Gitar Tunggal.

Sumber : http://www.janghiangbong.com/

Penulis : Marliyansah
BENGKULU–MI: Sedikitnya puluhan rumah terendam banjir di Desa Talang Ulu dan Desa Kampung Muara Aman Kecamatan Lebong Utara Kabupaten Lebong, Sabtu (6/12). Banjir yang terjadi di dua desa itu diakibatkan meluapnya sungai Amen yang berdekatan dengan pemukiman warga dengan ketinggian mencapai satu meter.

Terjangan banjir yang merendam rumah warga didua desa tersebut membuat warga mulai mengungsi karena warga takut apabila ada banjir susulan. Warga mulai mengungsi didaerah-daerah yang lebih tinggi atau mengungsi ke tempat keluarganya.

Hingga saat ini warga masih takut untuk kembali kerumah masing-masing karena hujan terus mengguyur Kabupaten Lebong. Curah hujan yang tinggi membuat beberapa sungai di kabupaten Lebong seperti sungai Amen mulai meluap.

Agustina,30, warga Desa Talang Ulu Kecamatan Lebong Utara mengatakan meluapnya sungai Amen yang berdekatan dengan pinggiran sungai. Banjir yang merendam didua desa itu secara tiba-tiba karena warga yang sedang berada didalam rumah ketika sore hari.

“Warga sangat kaget setelah merasakan banjir telah merendam rumah warga karena banjir tersebut datang secara tiba-tiba”, katanya.

Akibat banjir yang datang secara tiba-tiba mebuat warga panik dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Warga yang mengungsi ditempat-tempat yang lebih tinggi tanpa membawa bekal karena banjir yang datang secara tiba-tiba sehingga tanpa persiapan makanan.

“Kami sudah mengungsi karena masih takut kalau ada banjir susulan karena hujan deras terus mengguyur”, ujar Marwan,40, warga Kampung Muara Aman. (MY/OL-02)

Oleh Naim Emel Prahana
Naim Emel Prahana

1. Rimbe (asli Rejang)
2. Pakua (cangkul)
3. Arit
4. Golok
5. Gesek Lai
6. Gesek titik
7. Piseu (pisau)
8. Kapok (kampak)
9. Linggis

Alat Mencari Ikan
1. Kewea (pancing)
Kewea terbuat dari mata pancing, senar (tali), tiang kecea (dari bamboo khusus).
2. Kacea
Kacea sama dengan pancing, perbedaannya terletak pada penggunaan dan pada mata pancingnya. Mata pancing kaeca lebih besar dan di atasnya diikat timah lempeng—gunanya untuk memancing ikan-ikan besar mengejar lempengan timah tersebut. Cara menggunakannya dengan cara dilempar dan diayun-ayunkan di atas permukaan air.
3. Tajua
Tajua itu berupa pancing khusus untuk ikan-ikan besar seperti ikan gabus, limbek (lele; limbat), ikan Slan dan Belut besar (seperti di Danau tes). Tajua biasanya dipasang di waktu sore menjelang magrib dan akan ditarik (diambil) pada pagi hari.
Tajua itu unik, tali senarnya hanya sekitar 1 meter dan di atasnya diberi potongan bamboo kecil atau kayu seukuran jari telenjuk yang tujuan, agar ketika ditarik oleh ikan, tidak hilang tenggelam. Biasanya digunakan potongan-potongan pohon Peak (bambu air yang banyak tumbuh di daerah Danau Tes.
4. Jalai (jala)
Sama dengan jala pada umumnya.
5. Ja’ing (jarring)
Sama dengan jarring pada umumnya
6. Cakik
Cakik adalah bokoa kecil yang sengaja dibuat dengan lubang-lubangnya
7. Bau (Bumbu)
Bau itu terbuat dari anyaman khusus dari bahan bambu, berbentuk loncong. Di bagian mulut Bau memang agak kecil dan didalamnya dibuat perangkap ikan. Jika ikan sudah masuk, maka sulit untuk ke luar lagi. Biasanya Bau itu dipasang di air deras atau antara air yang tenang dengan aliran air deras.
Bau itu efektif sekali untuk menangkap ikan Slan (belut besar), ikan putih, ikan paleu dan lainnya, termasuk ikan sebdok dan limbek.
8. Tabem
Tabem itu sejenis Bau, tapi ukurannya kecil seperti silinder dan pintu masuk ikan ke dalamnya sama dengan mulut Bau. Terbuat dari lidi bambu dan rotan.
9. Tubo (tuba)
Tubo adalah alat peracun ikan yang dibuat dari akar khusus yang beracun. Biasanya ketika ditebarkan ke air—sebelumnya dicampur dengan abu atau tanah atau dedak. Tubo itu tidak membuat ikan mati, akan tetapi menjadikan ikan itu mabuk. Saat mabuk itulah ikan-ikan itu ditangkap.
10. Serapang
Terbuat dari besi dengan tiga mata (seperti trisula) dan dimasukkan ke dalam ujung bambu khusus yang panjangnya sekitar 1,5—2 meter. Tergantung selera yang punya. Serapang itu digunakan pada malam hari yang disebut dengan ‘menyuluak’. Mereka yang mencari ikan dengan menggunakan serapang itu biasanya naik perahu, kemudian menggunakan lampu petromak menyisir pinggir sungai atau Danau Tes.
Serapang dapat dipergunakan untuk mencari ikan, ketika air sungai atau danau sedangkan keadaan bersih dan jernih. Sehingga dari permukaan air, dengan mudah dapat melihat ikan di dasar sungai atau pinggiran danau.

Sambang
Sambang adalah tempat minum yang biasanya digunakan oleh orang Rejang di kebun, sawah sebagai pengganti gelas atau cangkir tempat minum. Sambang itu terbuat dari potongan bambu yang ada ruasnya. Kemudian, kulit luar bambunya dikupas dan dihaluskan dengan pisau. Ukuran sambang sama dengan ukuran gelas atau cangkir, begitu juga tingginya.

Aku Muak!

Saat waktu menunjukan pukul 0.0, saat berakhir hari ini, dan putaran hari baru dimulai.
Terjaga aku dari lamunan panjang yg senantiasa mengusik pikiranku waktu demi waktu..
haagh,.. muak aku!
Muak aku akan keadaan ini..! kehidupan ditempatku begitu keras!..kejam..!

Tak peduli aku kau lemah tak berdaya asalku punya sedikit saja kekuatan.. Engkau akan kuhantam!
Tak peduli aku kau punya ataupun tidak.. Asalkan kau serahkan saja semuanya padaku!

Aku tau kau mulai muak kepadaku.? tanpa kau pinta!..segera kukirim kata kata termanis tuk menghibur kekecewaanmu.

Aku tau kau mulai mengeluh kepadaku..?

karna aku berkuasa..

(bersambung)

Minggu, 21-Desember-2008, 12:20:03
LEBONG – BE, Sebanyak 133 formasi CPNS di Lebong tidak terisi. Walau jumlah peserta tes lebih banyak daripada kuota yang akan diterima, namun tidak berarti secara otomatis seluruh kuota terpenuhi. Selain dikarenakan ada formasi yang tidak ada pelamarnya, juga dikarenakan kuota untuk beberapa formasi tidak terpenuhi.

Anggota Panitia Penerimaan CPNS Lebong Ponija, S. IP menguraikan kuota formasi pendidikan adalah 224, strategis 88 dan kesehatan 65. Sementara jumlah peserta tes untuk formasi pendidikan adalah 219 orang, strategis 348 orang dan kesehatan 120 orang. Namun setelah mengikuti tes, jumlah peserta yang dinyatakan lulus adalah 127 orang untuk formasi pendidikan, 75 orang untuk formasi strategis dan 42 orang untuk formasi kesehatan.

Jadi, secara keseluruhan ada 133 formasi yang belum terisi. Meliputi 97 formasi pendidikan, 13 formasi strategis dan 23 formasi kesehatan, kata Ponija.
Menurut Ponija, tidak terpenuhi kuota disebabkan dua hal. Disamping ada beberapa formasi sama sekali tidak ada pelamarnya, juga dikarenakan kuota untuk beberapa formasi mampu dipenuhi. Untuk alasan kedua, sambung Ponjia, selain karena distribusi peserta untuk masing-formasi bervariasi, juga karena hasil tes peserta. Sayangnya, Ponija belum bisa menyebutkan formasi detail yang belum terisi.

Danau Picung di Kabupaten Lebong

Danau ini dibangun pada jaman belanda untuk memutar kincir pengolahan emas yang berada di daerah bawahnya lebong tambang – ladang palembang.

Oleh Naim Emel Prahana
Suku bangsa Rejang sebagian besar berdiam di wilayah Bengkulu dan sebagian berdiam di daerah provinsi Sumatera Selatan. Di Sumatera Selatan pada tahun 1961 berdasarkan cacah jiwa (sensus penduduk) menyebutkan jumlah masyarakat suku bangsa Rejang di Sumatera Selatan lebih kurang sekitar 500.000 orang.

Saat ini suku bangsa Rejang mendiami daerah Kabupaten Rejang Lebong (kabupaten Kepahiang, kabupaten Lebong), Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah. Dan, di Sumatera Selatan suku bangsa Rejang tersebar di daerah Lahat dan Musi Ulu, Musi Rawas dan Pagar Alam.

Ketika diadakan sensus penduduk tahun 1961 suku bangsa Rejang berdiam di marga-marga di daerah: Suku Rejang berasal dari Lebong (dulu namanya Renah Sekalawi)
1. Marga Suku IX di daerah Lebong. Kepala marganya berkedudukan di dusun Muara Aman dengan jumlah penduduknya sebanyak 5.972 pria dan 6.826 wanita.
2. Marga suku VIII di wilayah Lebong pasirahnya berkedudukan di dusjn Talang Leak; terdiri dari 5.972 pria dan 6.252 wanita.
3. Marga Bermani Jurukalang di Lebong; pasirahnya berkedudukan di dusun Rimbo Pengadang dengan penduduk 4.110 pria dan 4.138 wanita.
4. Marga Selupu Lebong di daerah Lebong, pasirahnya berkedudukan di dusun Taba Baru dengan penduduk 564 pria dan 637 wanita.
5. Marga Bermani Ulu di Lebong, pasirahnya berkedudukan di dusun Sawah berpenduduk 4.813 pria dan 4.565 wanita.
6. Marga Selupu Rejang di wilayah Rejang, pasirahnya berkedudukan di dusun Kesambe (Sambe) dengan penduduk 13.957 pria dan 13.295 wanita.
7. Marga Merigi di wilayah Rejang, pasirahnya berkedudukan di dusun Daspata dengan penduduk 7.286 pria dan 6.951 wanita.
8. Marga Bermani Ilir di daerah Rejang, pasirahnya berkedudukan di dusun Keban Agung dengan penduduk 9.242 pria dan 9.126 wanita.
9. Marga Sindang Beliti di daerah Rejang, pasirahnya berkedudukan di dusun Lubuk Belimbing dengan penduduk 3.524 pria dan 3.514 wanita.
10. Marga Suku Tengah Kepungut di daerah Rejang, pasirahnya berkedudukan di dusun Lubuk Mumpo dengan penduduk 2.360 pria dan 2.250 wanita.
Kemudian ada kelompok-kelompok orang Rejang yang tinggal di pasar-pasar Muara Aman, Curup, Kepahiang, Padang Ulak Tanding, dan di Marga Sindang kelingi.
11. Marga Selupu Baru di daerah Pesisir, pasirahnya berkedudukan di dusun Taba Penanjung dengan penduduk 1.635 pria dan 1.728 wanita
12. Marga Selupu Lama di daerah Pesisir, pasirahnya berdiam di dusun Karang Tinggi dengan jumlah penduduk 1.766 pria dan 1.791 wanita.
13. Marga Merigi Kelindang di daerah Pesisir, pasirahnya di dusun Jambu dengan penduduk 933 pria dan 993 wanita
14. Marga Jurukalang di daerah Pesisir, pasirahnya berada di dusun Pagar Jati berpenduduk 1.634 pria dan 1.964 wanita.
15. Marga Bang Haji di daerah Pesisir, pasirahnya berdiam di dusun Sekayun, penduduknya 882 pria dan 854 wanita.
16. Marga Semitul di daerah Pesisir, pasirah berkedudukan di dusun Pondok Kelapo dengan penduduk 2.031 pria dan 2.027 wanita.
17. Marga Bermani Sungai Hitam di daerah Pesisir, pasirahnya berkedudukan di dusun Pasar Pedati dengan penduduk 1.412 pria dan 1.370 wanita.
18. Marga Bermani Perbo di daerah Lais, pasirahnya berkedudukan di dusun Aur Gading dengan penduduk 782 pria dan 755 wanita.
19. Marga Bermani Palik di daerah Lais, pasirahnya berkedudukan di susun Aur Gading berpenduduk 3.741 pria dan 3.646 wanita.
20. Marga Kerkap di daerah Lais, pasirahnya berkedudukan di dusun Kerkap berpenduduk 1.957 pria dan 2.055 wanita.
21. Marga Air Besi di daerah Lais, pasirahnya berdiam di dusun Pagar Banyu, penduduk 2.048 pria dan 2.164 wanita.
22. Marga Lais di Lais, pasirahnya berdiam di dusun Rajo penduduk 5.132 pria dan 5.006 wanita.
23. Marga Air Padang di Lais, pasirahnya berdiam di dusun Padang Kala, penduduk 1,050 pria dan 973 wanita.
24. Marga Bintuhan di daerah Lais, pasirahnya di dusun Pagar Ruyung, penduduk 1.109 pria dan 1.120 wanita.
25. Marga Sebelat di Lais, pasirahnya di dusun Sebelat, penduduk 723 pria dan 835 wanita. Perkembangan orang-orang Rejang di daerah Sebelat itu kemudian menyebar di pasar-pasar Lais, Ketahun dan di Marga Proatin XII.
Semua masyarakat di atas, yaitu sebanyak 18 termasuk dalam hokum ada di daerah Kabupaten Bengkulu Utara.

Keterangan Tambahan.
Dalam perkembangannya suku Rejang yang berasal dari Lebong itu merantau ke berbagai daerah, yang menggunakan transportasi sungai, seperti Air Ketahun, Air Kelingi, Sungai Musi, Air Lakitan, dan Air Rupit. Melalui jalur sungai (air) itulah kemudian suku Rejang memasuki wilayah Sumatera Selatan yang tersebar dan berdiam di wilayah kabupaten Musi Ulu Rawas dan Lahat. Sekarang kabupaten-kabupaten tersebut sudah dimekarkan.

Wilayah Kediaman Suku Rejang di Musi Ulu Rawas
26. Marga Muara Rupit, pasirahnya berdiam di dusun Muara Rupit dengan penduduk 3.185 pria dan 3.196 wanita.
27. Marga Rupit Ilir kedudukan pasirahnya di dusun Batu Gajah dengan penduduk 2.673 pria dan 2.692 wanita.
28. Marga Rupit Tengah kedudukan pasirahnya di dusun Ambacang dengan penduduk 2.204 pria dan 1.974 wanita.
29. Marga Rupit Dalam kedudukan pasirahnya di dusun Sukarmenang penduduk 2.245 pria dan 2.111 wanita.
30. Marga Proatin V kedudukan pasirahnya di dusun Taba Pingin penduduk 8.174 pria dan 7.625 wanita.
31. Marga Tlang Pumpung Kepungut kedudukan pasirahnya di dusun Muara Kati penduduk 4.757 pria dan 4.514 wanita.
32. Marga Sindang Kelingi Ilir kedudukan pasirahnya di dusun Nangka penduduk 8.557 pria dan 7.970 wanita.
33. Marga Batu Kuning Lakitan kedudukan pasirahnya di dusun Selangit penduduk 3.137 pria dan 3.076 wanita.
34. Marga Suku Tengah Lakitan Ulu kedudukan pasirahnya di dusun Terawas penduduk 3.596 pria dan 3.379 wanita.

Wilayah Suku Rejang di Kabupaten Lahat
35. Marga Sikap Dalam Musi Ulu kedudukan pasirahnya di dusun Berugen penduduk 3.081 pria dan 3.230 wanita.
36. Marga Tedajin kedudukan pasirahnya di dusun Karang Dapo penduduk 4.463 pria dan 4.601 wanita.
37. Marga Kejatan Mandi Musi Ulu kedudukan pasirahnya di dusun Tanjung Raya penduduk 2.930 pria dan 3.137 wanita.
38. Marga Lintang Kiri Suku Sadan kedudukan pasirahnya di dusun Tanjung Raman penduduk 3.305 pria dan 3.333 wanita.
39. Marga Semidang kedudukan pasirahnya di dusun Seleman penduduk 3.838 pria dan 4.060 wanita.
40. Marga Kejatan Mandi Lintang kedudukan pasirahnya di dusun Gunung Meraksa penduduk 5.340 pria dan 5.604 wanita.
41. Marga Lintang Kanan Suku Muara Pinang kedudukan pasirahnya di dusun Muara Pinang penduduk 3.838 pria dan 3.947 wanita.
42. Marga Lintang Kanan Suku Muara Danau kedudukan pasirahnya di dusun Muara Danau penduduk 4.947 pria dan 5.071 wanita.
43. Marga Lintang Kanan Suku Babatan kedudukan pasirahnya di dusun Babatan penduduk 1.380 pria dan 2.927 wanita.

Berdasarkan masyarakat hokum adapt Rejang yang ada di daerah Lahat tersebut merupakan masyarakat hukum ada yang berdasarkan geneologis.Namun demikian masyarakat hukum ada, juga didasarkan semata-mata karena territorial (wilayah).

Marga
Mengenai istilah marga dalam masyarakat Rejang, sebenarnya bukan asli dari suku Rejang melainkan dibawa dan diterapkan oleh Asisten Residen Belanda di Keresidenan Palembang, J Waland. J Waland membawa konsep ke-marga-an itu dari Palembang ke Bengkulu tahun 1861. (mungkin untuk lebih pasnya silakan baca Adatrectbundel XXVII hal 484-6.)

Di dalam IGOB (Inlandsch Gemeente OrdonantieBuitengewesten) tahun 1928 Belanda secara resmi menerap system pemerintahan yang diberi nama Marga. Sedangkan pengaturan system pemerintah di Lampung baru diatur pada tahun 1929. seperti termuat dalam Staatblad 1929 N0 362. Waktu itu Lampung dijadikan satu Afdeling yang dipimpin seorang Residen.

Satu wilayah Afdeling terbagi dalam 5 (lima) onder afdeling masing-masing dikepalai oleh seorang kontolir yang dijabat oleh orang Belanda. Sedangkan system marga di Bengkulu—khususnya pada masyarakat Rejang diterapkan pada tahun 1861 yang dibawa oleh J Waland dari Palembang. Dengan demikian, penerapan pemerintah marga di Bengkulu lebih tua dari di Lampung.

Suku Rejang dikenal mudah penerima pendatang dalam pergaulan sehariu-hari. Namun, di balik penerimaan tersebut. Suku Rejang (Orang Rejang) sering melupakan identitas mereka, karena mudah percaya dengan pendatang. Sebagai satu dari 18 lingkaran suku bangsa terbesar di Indonesia, suku bangsa Rejang 100% menganut agama Islam. Mata pencaharian utama adalah dari sektor pertanian.

Dalam perkembangannya, suku bangsa Rejang atau Suku Rejang (boleh disebut dengan kata Orang Rejang) banyak melakukan reformasi pola pikir dari pola pikir agraris tradisional ke pola pikir pendidik formal. Masyarakat Rejang pada awalnya banyak mengirimkan putra-putrinya bersekolah ke daerah Sumatera Padang dengan tujuan Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan daerah lainnya.

Di samping itu banyak dari mereka bersekolah di Palembang, dan sangat sedikit melanjutkan pendidik ke Jawa. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Baru sekitar tahun 70-an kelanjutan sekolah orang-orang Rejang berkiblat ke Jawa, terutama Yogyakarta, Jakarta dan Bandung dan adapula yang menerobos ke Medan.

Akibat banyaknya putra-putri orang Rejang pergi merantau melanjutkan pendidikan di luar Bengkulu membawa konsekuensi logis terhadap pertambahan penduduk di Lebong, Rejang dan sekitarnya—di dalam wilayah provinsi Bengkulu. Pertambahan penduduknya lamban.

Dipelopori orang Rejang dari Kotadonok, Talangleak, Semelako dan Muara Aman yang banyak menjadi pejabat di luar daerah, jadi anggota TNI dan Polri. Akhirnya sekitar tahun 1980-an orang Rejang yang jadi anggota TNI dan Polri serta PNS semakin banyak dan bertebaran dari Aceh sampai Irian Jaya. (bersambung)

Tulisan Sebelumnya »